Rahasia di balik perintah “Membaca” yg ada di dalam Al-Qur’an
Kata iqra yang terambil dari kata qara’a pada mulanya berarti
“Menghimpun”. Apabila Anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut, Anda telah menghimpunnya atau, dalam bahasa Alquran, qara’tahu qiratan. Iqra yang di terjemahkan dengan “bacalah”, tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis yang dibaca, tidak pula harus di ucapkan sehingga terdengar oleh orang lain.
Apa rahasia di balik perintah “membaca” ? rahasia tersebut baru akan benar-benar terungkap bila kita mampu menghimpun rangkaian huruf demi huruf yang menyusun kata iqra secara sempura ke dalam tiga pengertian dasar perintah iqra itu sendiri, yaitu :

Pertama, rangkaian huruf Aliif, Qaaf, dan Raa yang menyusun kata iqra dalam konteks pengertian membaca ayat-ayat Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an sehingga dapat diartikan sebagai berikut :
Aliif = Allah, Qaaf = Qur’an, Ra= Rahmat.
Dalaam konteks ini, kata iqra diartikan bahwa Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.
Kedua,rangkaian huruf Aliif, Qaaf, dan Raa yang menyusun kata iqra dalam konteks pengertian membaca ayat-ayat Allah terdapat dan tercipta di alam semesta. Maka, ia dapat diartikan sebagai berikut :
Aliif = Alamin( alam semesta), Qaaf = Qalam (gejala alam), Ra= Ra’a (membaca dengan mata).
Dalam konteks ini, kata iqra diartikan bahwa alam semesta merupakan al-qalam(tanda-tanda) yang dianugrahkan Allah untuk dipahami secara visual (dibaca dengan mata) oleh manusia untuk selanjutnya dijadikan sebagai dasar sebuah ilmu pengetahuan.
Ketiga, rangkaian huruf Aliif, Qaaf, dan Raa yang menyusun kata iqra dalam konteks pengertian membaca ayat-ayat Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an sehingga dapat diartikan sebagai berikut :
Aliif = aqlu (pikiran), Qaaf = qalbu (qalbu), Ra=ruh (Jiwa).
Dalam konteks ini, kata iqra ditafsirkan sebagai sebuah sistem yang terdapat di dalam setiap diri pribadi manusia yang harus bekerja secara bersinergi, selaras, dan seimbang. Ketiga komponen inilah (pikiran, perasaan, jiwa) yang di sebut oleh sains modern sebagai realitas quantum diri Manusia, sebuah realitas yang tidak kasat mata, namum menimpan sebuah kekuatan dahsyat yang keberadaannya mampu mengubah nasib manusia.